Penunggu balasan; pecinta tulisan; pengagum terang-terangan yang teracuhkan.

Read More

Herlin Aniko as Anikoiy

She was the first born child
Read More

A Secret

She loves you.
Read More

Happier

Ways to be happier
Read More

Graduation

21 Oktober 2017
Read More

Penyerahan Ijazah

Ijazah diserahkan oleh Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Monday, July 23, 2018

Ibu pertamaku.


Ibu pertamaku adalah seorang perempuan yang melahirkanku dari rahimnya. Tidak seperti bayi lain yang terlahir normal. Tidak seperti bayi lain yang terlahir 9 bulan 10 hari. Aku terlahir dengan kurun waktu 7 bulan. Aku prematur. Bayi yang umurnya belum matang untuk melihat dunia yang penuh dengan dosa ini, terlahir dengan sempurna kecuali waktu dan bobot badanya.

Ibuku mewariskan penampakan fisik kepadaku. Rambutnya yang keriting, kulitnya yang kecoklatan, dan matanya yang belo. Ibu bersamaku tidaklah lama, kalau ditotal semenjak kelahiranku kami bersama kurang dari 10 tahun lamanya. Karena minimnya kebersamaan kami, itulah yang membuat kenangan diantara kami sedikit. Tak banyak yang bisa kuceritakan.

Rasanya ibuku tak terlalu pintar memasak, terbukti rasa masakan nenekku yang lebih teringat oleh indera pengecapku. Rasanya ibuku tak pandai bernyanyi, karena lagu anak-anak itu bersenandung indah dari kaset dan tape. Rasanya ibuku tak terlalu menyukai olahraga, karena seingatku badan ibuku juga tidak terlalu proposional. Semua hanya rasanya, karena aku juga tak yakin akan keadaannya sekarang.


Setelah perpisahan dikala aku masih duduk di kelas 2 SD itu, tak ada kabar yang benar-benar datang darinya. Kemajuanteknologi seperti telepon genggamdan media sosial juga tak dapat mempertemukan kami. Dimanapun beliau beraa aku hanya ingin mengucapkan “Terima kasih telah melahirkan aku ibu”.
Read More

Sunday, July 22, 2018

Help me

Hi, bagaimana hidupmu?

Semuanya terkontrol kan?

Sudah lama ya, dan aku merindukan caramu membodohi aku. 
Aku merindukan caramu membohongiku.
Perkenalkan seorang aneh yang mengharapkan kabar darimu. Yang iseng menelponmu dengan telepon kantor. Iya, pagi tadi yang hanya sanggup mengucap salam itu aku. Siapa lagi yang dengan gilanya sanggup melakukan itu?
Aku bertaruh, akulah satu-satunya. Benarkah? (apabila ada yang lebih gila dari padaku, beritahu saja, mungkin kami cocok menjadi gila bersama)

Menurutmu sebegitu terpurukkah aku?
Read More

Wednesday, January 3, 2018

Invitasi

Dear D,
This would be the last year of my study. After I graduated, new live would be waiting for me. I am sure when the time arrived, it wouldn't really matter for you. You won't bother with such an ordinary occasion like that.
You could forgot  about all my birthdays presents; forgot about the time when I was the one who thought you every night . With all my sincere, like a beggar in the street, I admired about one moment that we could spend together talking cheap.
Everything happen for a reason. Somehow the reason is seeking for something. Could i became your reason once?

Hasil gambar untuk you are invited
Sumber : google
Sepenggal tulisan di atas adalah draft e-mail yang tahun lalu kubuat. Sampai sekarang masih menjadi draft. Tak sanggup masih kumengirimkannya. Aku menabung tekad menguatkan diri agar tak khilap. Hari-hari kumengingatkan diri sendiri bahwa kau hanyalah kesia-siaan.

Banyak yang ingin kutuliskan tentangmu. Namun ku sekali lagi menahan diri untuk itu. Aku tak ingin kau terus menghantui hidup sekarang dan masa depanku nanti. 

Sesungguhnya aku ingin mengundangmu, tapi mungkin kau tak kan sudi. Jadi, mari kita sudahi.
Ahhh.. dari dulu aku sangat ingin menyudahi ini sendiri. Jadi, ini sebenarnya tak penah terjadi. Kau tak salah sama sekali. Hanya waktu belum sempat memihak di sisi. Terima kasih karena pernah menyamangati beberapa kali. Terimakasih atas cuekmu yang setengah mati. Undangan inilah pengingat kepengecutan dan ketidakmampuan serta ketidakjadian yang hakiki.
Read More

Thursday, December 28, 2017

Addasuqi Arsyad

Nama panggilannya Suqi.
Berasal dari bumi, dia manusia yang penuh dengan mimpi.

Lelaki yang statusnya lebih tua dari padaku namun kupanggil dia dek. Bagaimana bisa? Bisa saja. Apa saja bisa kan? Akan kuberitahu alasannya. Dia mengulang kuliah untuk kesekian kalinya. Sungguh luar biasa tekad dan semangatnya. Semoga kali ini dia dapat menyelesaikannya. Namun, dia tidak terima akan panggilaanku itu, akhirnya kami berakhir dengan saling panggi aku-kamu atau you-I. Ini bukan sok Inggri yaa.

He asked me to used English in every messages. We used it quite a lot. I love it, but somehow, something need to be talked in our mother tongue. It’s a little bit hard to expalin in English. I wanna change it into bahasa, but he refused it.

Aku tak pernah bertemu secara langsung dengannya.
Iya, benar sekali. Kami hanya bertukar pesan lewat kotak kecil portabel yang biasa dibilang handphone itu. Tenang saja, hanya bertukar pesan sekadarnya. Lalu, mungkin ada yang bingung. Sekadarnya saja kok bisa dijadikan tulisan begini. Ini disamping aku kehabisan ide untuk menulis dan barusan dia mengirimiku sebuah pesan. Maka, aku tulis saja dia. Walaupun aku tak mengenalnya. Ralat, aku tak mengenalnya secara langung msksudnya.

Dialah kawan penyuka film Lord of the Rings.
Dia pecinta hujan ngakunya. Saat kutanya alasannya, karena itu membuatnya lebih nyenyak tidur katanya. Hal itu kemudian kujadikan dasar mencapnya sebagai pecinta tidur.Tidur sendiri dipandangnya sebgai sebuah bisnis. Bisnis yang dapat menghasilkan mimpi-mimpi.

Sesingkat itu yang kutahui tentangnya. Nanti, kalau seandainya memang jodoh bertemu, janjiku akan menuliskan tentangnya lagi. Apabila tidak sempat berjodoh bertemu, yasudah. Berarti memnag tak sempat saja.


Dan, apabila ada yang penasaran dengan penampakannya. Ini dibawah adalah penampakannya yang kudapat dari mesin pencari google.
Read More

Wednesday, December 27, 2017

Perusak Hati 1



Aku berulang kali merusak hati-hati manusia disekitarku. Aku merusak hati mereka dengan perilakuku. Aku merusak suasana hati mereka tanpa ada niatku. Aku berkata, mereka terluka. Aku bersikap, mereka membiru. Aku lah yang menjadi sosok merusak suasana hati mereka yang dulu.

Sumber : google
Ambil contoh saja orang tuaku, tak mungkin mereka tak pernah sakit hati karenaku. Teruntuk salah satu dari orangtuaku yang sangatlah rapuh hatinya, yang tak pernah berkata akan kekecewaannya kepadaku, namun selalu mengatakan kepada anggota keluarga lain akan sikapku yang merusak hatinya. Tulisanku ini tak untuk membuatmu semakin sakit hati, tapi pernahkan kau merasakan bahwa kecewamu berpengaruh terhadap kesehatan mentalku. Aku akan terngiang-ngiang akan kekecewaanmu, seminggu saja tak kan habis memikirkan itu.

Aku tak menuntut kalian agar selalu memaklumi keadaanku. Tapi bisakah aku berharap kalian berbesar hati kepadaku? Karena aku juga sedang menggemukkan hatiku akan segala keadaan baru di dalam keluarga kita. Ini bukanlah ajang untuk membuka aib. Aku katakan keluargaku baik-baik saja. Iya, kami berusaha dengan sangat untuk begitu, dan aku harap usaha tersebut tidaklah sia-sia.

Aku tak ingin di cap sebagai pendosa dan pendurhaka. Aku memohon kalian melapangkan hati dengan sangat akan kelakuanku yang hanya dapat merusak hati kalian. Aku sungguh tak ingin dan tak berniat akan hal itu semua. Apabila memang ada, bisakah kita membicarakannya dengan jelas. Membuat sebuah forum untuk keluarga kecil kita? Bisakah kalian meluapkan kekecewaan itu dan mendengarkan aku melakukan setidaknya pembelaan? Aku tak ingin menjadi sebuah pembenaran, hanya sebagai sebuah pembelaan yang layak untuk di dengar oleh kalian.

Sungguh hanya kalian saja yang akan berarti untuk mendengarnya, aku tak peduli dengan orang lain sebanyak aku peduli dengan kalian.


Read More

Banyak Keadilan yang Pincang

Aku dan secangkir kopi susu hangat; mangga manis yang sudah terkupas siap makan di atas piring dan setumpuk jurnal. Campuran yang jarang terjadi dari sepanjang hidupku. Perutku hari ini belum terjamah nasi, dan waktu masih menunjukkan dibawah pukul 10 pagi waktu Indonesia Barat.

Pintu utama ruang kerjaku berderit, terbuka dari arah luar. Sosok yang kukenali itupun mengucap salam dan masuk sambil menenteng daftar hadir. Dosen senior yang hendak mengajar di kelasnya pagi ini berkunjung. Beliau yang katanya telah lama berada di Vatikan tersenyum kepada seluruh penghuni ruangan. Beliau bertanya "sehat?".
Kami bergantian menjawab " Alhamdulillah, sehat".
Ini bukan pertama kali aku bercakap dengan beliau. Beliau sebelumnya pernah bercakap denganku masalah melanjutkan studi ke luar negeri. Beliau sangatlah mendukung golongan umur-umur produktif sepertiku melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Kesan pertamaku kepada beliau adalah sangat ramah dan suka menawarkan bantuan juga berwawasan terbuka.

Belaiu berbagi cerita tentang kelas yang diampunya, kelas filsafat hukum. Beliau bercerita tentang perdebatan beliau dengan seorang mahasiswal; tentang masalah hukum peradilan di Indonseia; tentang bagaimana awalnya putusan hakim di pengadilan negeri yang awalnya rendah, kemudian bisa bertambah berkali lipat dikala itu harus di sidang di pengadilan mahkamah agung yang jenjangnya lebih tinggi lagi. Maafkan apabila pemilihan kataku yang salah tempat dan salah pemahaman, karena aku bukanlah berasal dari latar belakang pendidikan hukum. Aku menerima koreksi akan ini.

Beliau dengan semangatnya bercerita meski  beliau masih dalam posisi berdiri. Beliau menjelaskan dengan sangat berapi-api. Namun, aku hanya menelaah, mencoba memahami, meski hingga akhir tak dapat juga aku menyerap seutuhnya. Berikut adalah pengertian kata 'pincang' menurut kbbi (kamus besar bahasa Indonesia).

/pin·cang/ a 1 timpang kakinya atau timpang jalannya (karena pembawaan sejak lahir, karena terkilir, kena beling, dan sebagainya)

 Aku pernah mecari ilustrasi di mesin pencari, tapi tak tega rasanya memasukkan keadaan yang tak sempurna itu. Aku harap para pembaca tak menuntut ketidakmampuan penulis kali ini dalam mengagambarkan keadaan yang bukanlah lingkungan biasa dari penulis.
Penulis hanya berbagi, yang sangatlah sulit untuk dibagikan.


Read More

Tuesday, December 19, 2017

Healer

Penyembuh. Seseorang yang dijadikan pengalihan? Seseorang yang dijadikan harapan untuk membuat lupa dari sang pembuat luka?
Sumber :http://balisoulmate.com/
Definisi healer menurut pribadiku adalah begitu. Healer tak akan ada saat sang pembuat luka juga tak ada. Bisakah sang pembuat luka juga sekaligus sang healer? Bisa saja. Sangat bisa. Karena itulah yang sedang terjadi kepadaku dan beberapa orang disekitarku.

Pernahku hampir memunyai seorang healer. Namun, tak jadi. karena itulah aku sebut saja hampir. Aku tak lah sakit. Aku pernah sakit. Begitu sakit, namun tak sampai berkeinginan untuk berpindah dunia.

Aku mencoba menyembuhkan diri sendiri. Aku membangun benteng setebal dan sekuat mungkin. Aku bertahan dari terpaan segala bencana. Aku mempertebal rasa sabar. Aku harap Tuhan kan melapangkan.

Read More

Sunday, December 10, 2017

I am not enough for you

I am not enough for you. 
There, I said it so you don’t have to.

 No, don’t apologize. Don’t feel bad.
 I didn’t say it to make you feel bad. 
I don’t want you to feel bad ever.


sumber : https://s.kaskus.id/images/2014/06/13/6264258_20140613095632.jpg

I want you to speak sunshine and lap up love.
 I want you to build mountains and 
learn to climb up them. 

But you build mountains and then destroy them
and then build them back and
I spent a lot of time waiting for someday.


Every time you leave, it tears me apart,
 but I wait for you to come back because
 it feels so fucking good when you do.

 It feels so fucking good because
there is a small piece of me every time
 that thinks someday this will work
 and all of me that wants it to. 

I still believe there was a right time for us.
 But whatever that moment was, we missed it.


Can you understand that? 
Can you understand that there is no way 
to unwrite our wrongs?

 Can you understand that we destroyed each other 
and now there is nothing I can do but sit
 on the bathroom floor and love and cry until
 we are washed out of each other?



Sometimes I still hear your voice 
in my sleep and I sleep in to remember 
what it felt like to have you. 
Because most days, I don’t remember.
 Your memory has faded. You’re gone.


And most days, I am fighting the urge to
press our wounds together and let 
your blood run through me.

 I want to take all of your pain from you.
 I want to throw it out, rinse you clean.
 I want to spend my whole life making you better.

 But I will never be enough for you.


You will always write the other girls love poems,
 never me. I could sit with you until 3 in the morning
 convincing you not to kill yourself,
 but it would still be meaningless compared
to how ‘you are beautiful’ sounds on her lips. 

My friends don’t respond anymore
 when I talk bad about you because they know 
that once the anger fades, 
I will love you just like I always have. 



There is nothing you could do to make me
 not love you, but there is nothing else
we can do for each other.
 The universe gives up after third chances, 
and I guess now, finally, I am giving up too.

 I wasn’t enough for you then and I never will be. "
— I know you’re sorry.

Read More

Aku Tak Cukup Untukmu D

Sumber : https://tablemat.files.wordpress.com/2013/11/wpid-20131109_123056_201311091244570412.jpg

Ini murni bukanlah tulisanku. Tapi rasanya benar-benar seperti aku telah di dalamnya.
Tulisan ini benar-benar aku. Aku mengubahnya sedikit agar lebih menggambarkan kedalaman hatiku yang sebenarnya. Versi aslinya adalah Bahasa Inggris. Namun, aku kan menafsirkannya dalam Bahasa Indonsesia dan menambahkan beberapa kata yang sesuai dengan konteks isi hatiku. Versi aslinya akan ada di postingan selanjutnya.

"Aku tak cukup untukmu." Aku katakan begitu agar kau tak perlu mencukupkan dirimu untukku. Jangan, tak perlu mencoba untuk menjadi cukup. Jangan, tidak perlu merasa bersalah kepadaku. Jangan merasa bersalah. Aku tak ingin kau merasa bersalah. Aku tak mengatakannya agar kau merasa bersalah. Kau tak salah.
Aku ingin berbicara kepada mentari dan menyinari kau dengan cinta. Aku ingin membangunkanmu gunung dan mengajarkanmu untuk mendakinya. Bukan melihatmu membangun gunungmu sendiri dan menghancurkannya, kemudian membangunnya lagi dan menghancurkannya lagi. Aku menghabiskan waktuku untuk menunggumu menyelesaikannya.

Setiap kali kau pergi, itu menyakitkan. Tapi aku menunggumu untuk kembali karena rasanya sangat luar biasa saat kau kembali lagi disisi. Itu luar biasa karena ada sepotong kecil dari bagian diriku yang berasumsi kau kan memperjuangkanku, mempersembahkan segalanya untukku, suatu hari nanti. Aku merasa suatu waktu kelak pantas buat kita. Tapi dimanapun waktu itu, aku rasa kita kehilangan waktu itu, momen itu telah hilang.

Dapatkah kau memahaminya? Dapatkah kau memahami tidak ada lagi cara untuk menghapuskan kesalahan kita? Dapatkah kau memahami kalau kita menghancurkan satu sama lain sekarang? Tak ada cara lagi untuk memperbaikinya. Aku hanya bisa duduk di lantai kamar mandi dibawah pancuran air dan mencinta dan menangis sampai kenangan itu bersih terbawa air.

Terkadang, aku masih dapat mendengar suaramu di dalam tidurku dan aku tertidur dalam ingatan tentang apa yang telah kau perbuat. Karena kadang-kadang kenangan tentangmu terkadang menyeruak menyerap membobol pertahanan bendungan air mata yang tercekat . Karena akhir-akhir ini aku memaksa tak mengingat. Karena kuharap kenanganmu telah kabur, sirna, Kamu telah pergi.

Dan banyak menghabiskan hari dengan berdebat untuk menekan luka kita bersama dan membiarkan darahmu mengalir melaluiku. Aku ingin mengambil seluruh sakit itu darimu. Aku ingin membuangnya, membersihkannya, membuatmu tak merasa sembilu itu. Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku membuatmu lebih baik menjauhi biru. Tapi sekali lagi aku tak kan pernah cukup untukmu.

Kau akan selalu menulis puisi untuk gadis lain, tak pernah aku. Aku dapat duduk bersamamu hinga pukul 3 pagi membujukmu untuk tidak bunuh diri, tapi itu tidak akan bermakna jika dibandingkan dengan "cantiknya" suara bibir gadis itu. Teman-temanku tak  lagi menggubrisku. Mereka mengacuhkanku apabila berceloteh buruk tentangmu karena mereka telah mengetahui setelah kemarahanku hilang, aku akan seperti sebelumnya, sangat memujamu.

Tak ada yang dapat aku lakukan untuk tak memujamu, tapi tak ada yang dapat kita lakukan untuk kita. Dunia telah menyerah setelah memberikan kesempatan  ketiga. Dan sekarang, aku menduga, akhirnya aku menyerah juga. Aku tak akan pernah menjadi cukup untukmu dan tak akan pernah bisa.

Menyesalkah kau?


Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Blog Archive

Statistik Aniko

Search This Blog

Jimbon punya Dikta, kucing online-ku

Jimbon kucingnya Dikta adalah hal paling membahagiakan di internet sekarang. Kucing online-ku. Gendutnya gak kira-kira. Kelakuannya ya kayak...

Followers

Copyright © Anikoiy | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com